Lanjutan Proses Pelaporan Sekjen PDIP, Pelapor Kembali Sambangi Bareskrim Polri

Ado Richard Selasa | 08 Januari 2019 | 13:27 WIB
Lanjutan Proses Pelaporan Sekjen PDIP, Pelapor Kembali Sambangi Bareskrim Polri
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Jakarta, (Selasa 8/1/2019) Pelapor Sekertaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Nita Puspita Sari bersama Djamalloedin Koedoeboen selaku kuasa hukumnya, Senin (7/1) kemarin menyambangi Bareskrim Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat guna memenuhi undangan pihak penyidik Bareskrim Polri.

Mewakili kliennya, Djamalloedin Koedoeboen dalam kesempatan tersebut menyampaikan, “Jadi inti kedatangan kami hari ini bukan untuk pemeriksaan melainkan dalam rangka memberikan keterangan berita acara interview yang diminta penyidik guna kepentingan penyelidikan terkait laporan kami sebelumnya," ujar Djamalloedin.

"Ada 15 pertanyaan yang diajukan pihak penyidik Bareskrim, dan klien kami juga telah menjawab dengan baik dan jelas.
“Untuk proses lenjutannya, kami diminta menunggu hasil dari pemeriksaan saksi-saksi dan alat bukti, yang mana nantinya pihak penyidik Bareskrim yang menentukan apakah prosesnya akan naik ke tahapan penyelidikan,” sambung Djamalloedin.

Lebih lanjut Djamalloedin menjelaskan, bahwa sebelumnya, tertanggal 26 Desember 2018 lalu, pihaknya juga telah mendatangi Bareskrim Polri menyampaikan laporan serta sejumlah alat bukti terkait dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Hasto Kristiyanto yang dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan capres dan cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin ketika berorasi dalam kegiatan Safari Kebangsaan di Lebak,Banten Desember lalu.

"Pelaporan 26 Desember (2018) itu kan telah kita terima bukti pelaporannya. Itu ada dugaan, ada tiga pasal, Pasal 156 KUHP terkait ujaran kebencian, kemudian Pasal 14 juncto Pasal 15 UU Nomor 1 (Tahun 1946 tentang KUHP)," tambah Djamalloedin.

Saat itu Hasto Kristiyanto menyinggung soal capres yang sering menebar fitnah dan selalu marah-marah. ”Masyarakat ini mau milih yang mana? Mau penyebar fitnah atau difitnah?” ucapnya.

“Padahal sebagaimana diketahui bersama, berdasarkan berbagai pemberitaan yang ada, yang telah menyebarkan fitnah terhadap Pak Jokowi adalah La Nyala Mattaliti, namun mengapa Hasto menuduh langsung bahwa Pak Prabowo adalah capres yang menyebarkan fitnah,” tutup Djamalloedin.